Pages

ALBUM

Jumat, Juni 03, 2011

Sosok "Ahmad Fuadi"

Ditulis oleh : Setyo Arie Kusmawan

Ahmad Fuadi, lahir di Maninjau Sumatera Barat 30 Desember 1972 adalah seorang Penulis Novel Trilogi 5 Menara yang sangat fenomenal, pekerja sosial serta mantan wartawan Tempo dari Indonesia. Penerima 8 beasiswa keluar negri, anak seorang guru agama sekolah dasar yang kehidupanya sangatlah sederhana atau dibilang miskin. Seumur hidupnya ahmad fuadi tidak pernah menginjakkan kakiknya diluar ranah minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di hutan Bukit barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau.

Tiba-tiba Ahmad Fuadi harus melintasi pegunungan Sumatera menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur di Ponorogo. Ibunya menginginkan ahmad fuadi menjadi Buya Hamka (tokoh muhammadiah yang disegani di Sumatera) walau Ahmad Fuadi ingin dirinya sebagai BJ. Habiebie dengan setengah hati Ahmad Fuadi mengikuti perintah ibunya belajar di Pondok Pesantren Modern Gontor di jawa Timur.

Ahmad Fuadi sangat terkesima dengan mantra sakti “man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses”. Dibawah menara masjid ahmad fuadi dan teman-temanya sambil menunggu adzan maghrib menatap awan lembayung yang berarak ke ufuk, awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan Benua Eropa sebagia impian Ahmad Fuadi dan teman-temannya. Kemanakah impian itu akan mereka bawa? Mereka tidak tahu yang mereka tahu adalah : jangan pernah remehkan impian/cita-cita, walau setinggi apapun impian/cita-cita, Tuhan sungguh maha mendengar.

Setelah lulus dari Pondok Modern Gontor, Ahmad Fuadi sudah bisa 2 bahasa, bahasa Arab dan Inggris. Impianya tinggi betul, ingin belajar di Institut Teknologi Bandung seperti bapak BJ. Habiebie dan sekolah di Amerika. Dengan semangat yang membara Ahmad fuadi pulang kampung ke Maninjau dan tak sabar ingin kuliah. Namun kawan karibnya Randai meragukan kemampuan Ahmad Fuadi lulus UMPTN dan Ahmad Fuadi sadar betul ada satu hal penting yang dia tidak punya yaitu ijasah SMA. Bagaiman mungkin mengejar cita-cita setinggi langit tanpa ijazah.? (karena di pondok pesantren tidak diberi ijazah formal SMA). Ahmad Fuadi mendobrak rintangan berat dengan mengikuti ujian untuk mendapatkan Ijazah SMA dengan susah payah setiap hari belajar dari buku-buku pinjaman kawan karibnya Randai akhirnya Ahmad Fuadi lulus menadapatkan Ijasah SMA. Rintangan ini belum juga reda badai lain menggempurnya Ahmad Fuadi harus ikut UMPTN agar bisa masuk kampus yang di cita-citakan di ITB (institute Teknologi Bandung) dan ternyata Ahmad Fuadi gagal masuk ITB dan akhirnya diterima di UNPAD (universitas padjadjaran).

Ahmad Fuadi berangkat ke kota Bandung untuk meneruskan kuliah, dengan biaya dari hasil bapaknya menjual sepeda motor kesayanganya (motor keluaran tahun70’an), yang dituju adalah tempat kawanya Randai yang lebih dulu masuk ITB,mereka satu kos di daerah tubagus ismail. Rintangan mulai datang kembali disaat ayahnya meninggal dunia, hidupnya mulai sulit jangankan untuk membayar uang kuliah untuk makan sehari-hari saja tidak bisa, Ahmad Fuadi mulai berjualan dari alat-alat rumah tangga hingga menjadi sales kecantikan bahkan dia sempat bertanya-tanya “sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini” hampir saja dia menyerah. Rupanya mantra “man Jadda wajada saja tidak cukup dalam memenangkan hidup, Ahmad Fuadi ingat mantra kedua “man shabra zhafira, siapa yang sabar akan beruntung. Ahmad fuadi mulai menulis artikel di Koran Bandung, dan artikelnya dimuat di sebuah Koran dengan senangnya ahmad fuadi mendapat honor dan keinginanya mentraktir teman-temanya alangkah malunya karena honor yang diterima hanya Rp. 15.000,- tidak cukup mentraktir Untuk mentraktir teman-temanya, ahmad fuadi selain menulis artikel di Koran-Koran tak lupa dia meluangkan waktu hidupnya untuk mengajar anak-anak tidak mampu di area TPAS (tempat pembuangan akhir sampah) di daerah bandung.

Ahmad Fuadi yang selalu tak pernah menyerah akhirnya tulisan-tulisanya sudah menjadi langganan Koran bandung. Berbekal kedua mantra tersebut dia songsong badai hidup satu persatu.

Ahmad fuadi mengkuti test program pertukaran pemuda antara Indonesia dan kanada dan awal mula ahmad fuadi menjadi duta muda bangsa ke kanada. Terwujud sudah impianya untuk pergi ke benua Amerika sebuah awal untuk ke benua eropa lainya. Sebuah tekad untuk meraih mimpi yang menjadi sebuah kenyataan dengan ketekunan, usaha keras dan kesabaran. Semoga menjadi inspirasi pembaca untuk lebih maju, mandiri dan membangun.

Pendidikan

- KMI Pondok Modern Gontor, Ponorogo (1988-1922)

- Program Pendidikan Internasional, Canada World Youth, Montreal Kanada (1995-1996)

- National University of Singapore studi satu semester (1997)

- Universitas Padjadjaran Jurusan Hubungan Internasional (September 1997)

- The George Washington University, Washington DC, MA dalam media and Public Affairs (Mei 2001)

- Royal Holloway, Universitas London, Inggris, MA dalam Medi Arts (September 2005)

Penghargaan dan Beasiswa

- SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001

- Columbus School of Arts and Sciences Award, The George Washington University The Ford Foundation Award 1999-2000

- CASE Media Fellowship, University of Maryland, Collage Park 2002

- Beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana The George Washington University1999-2000

- Beasiswa British Chevening, Program Pascasrjana, University of London 2004-2005

Jumat, April 29, 2011

Menapak Kampung Naga

Manapak Kampung Naga

Ditulis oleh: Setyo Arie Kusmawan

Perjalanan kali ini adalah Kampung Naga, sebuah Kampung yang masih mempertahankan budaya leluhur ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, perjalanan saya lakukan dengan mengendari kendaraan umum. Tujuan pertama adalah terminal bus Cicaheum Kota Bandung dengan jurusan Kota Garut, setelah sampainya di Garut mencari Bus jurusan Tasikmalaya. Jarak tempuh dari kota Garut ke Kampung Naga jaraknya 26 kilometer, Kampung Naga ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya, Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Tanah yang subur

Untuk mencapai Kampung Naga dari arah Jalan Raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga (kira-kira 100 s/d 300 anak tangga) yang sudah di tembok (Sunda : sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampailah kedalam Kampung Naga. Bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Arsitektur Kampung Naga

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga sangat artistik menggunakan rumah panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu (tahan gempa). Atap rumah terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong). Daya tarik Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyarakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memelihara Adat Istiadat leluhurnya. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

Bersama Kepala Adat Kampung Naga Bapak Ade Suherlin

Bersama kang Cahyan sang Pemandu

Setelah sampainya di Kampung Naga saya bertemu dengan 3 teman dari Dosen muda FISIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya untuk melakukan sebuah penelitian, saya pun bergabung untuk mendapat informasi dari wawancara dengan Kepala Adat Kampung Naga Bapak Ade Suherlin, kami berbincang-bincang sebuah balai pertemuan /Aula. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari budaya Kampung Naga, adanya peran lembaga adat adalah berkaitan adat budaya karuhun nenek moyang yang di turunkan yaitu pola hidup masyarakat adat adalah hidup bersama alam bukan hidup dialam.

Warga Kampung Naga

Selain itu kami meyakini Budaya bukan pariwisata, karena Budaya adalah tuntunan bukan tontonan, Kampung Naga berkewajiban melestaraikan budaya, merawat dan menjaga berkewajiban mewarisan leluhur serta mendidik anak bangsa dari budaya. Perilaku hidup kami bersama alam, alam bukan untuk ditaklukkan dan tidak untuk di taklukan, alam tidak membuat bencana dan merusak yang merusak adalah ahklak, ini yang akan kami wariskan. Kami tidak membeda-bedakan, karena budaya mengajarkan sebuah perbedaan dan beda itu warna sebuah kehidupan serta beda itu sangat indah. Kami mempunyai sebuah keyakinan yang mangatur ahklak yaitu 3 (tiga) tuntunan : Budaya itu Falsafah, Agamais itu Kitab Nasionalis itu Undang-undang.

Pak Maun ketua Punduh membuat Lantai dari Bambu

Kami pernah ditawarin listrik oleh pemerintah tanpa membayar satu sen pun, kami menolaknya sejak tahun 1960 berkali-kali hingga terkahir tahun 2009. Seandainya Kampung Naga memakai listrik berarti namanya bukan Kampung Naga lagi....”mungkin sudah menjadi kampung rambutan”...!!! yang kami butuhkan adalah hanya minyak tanah, jelas yang kami butuhkan minyak tanah sebagai penerangan untuk belajar anak-anak kami, kami tak pernah melakukan demonstrasi untuk mendapatkan minyak tanah sewaktu kenaikan harga minyak tanah membumbung tinggi di tahun 2009, harga minyak tanah sampai Kampung Naga per/liter Rp. 10.000. kami menggunakan media cetak maupun elektronik untuk berbicara kepada pemerintah yang masih keliru. Apabila kami memakai listrik kami tidak bisa menikmati indahnya sinar rembulan disaat purnama itulah kami hidup bersama alam dan mensyukuri dari nikmatnya sebuah ciptaan tuhan yang sangat indah.

Tempat Mandi dan Kakus

Tempat Buang Air Besar

Kami juga menolak adanya Gas untuk memasak, kami memilih kayu sebagai bahan bakar untuk memasak, seharusnya pemerintah malu terhadap Kampung Naga, kami tidak pernah merusak Hutan disekeliling kami walaupun kami menggunakan bahan bakar kayu. Kami menjaga hutan karena sebagai Mata Air kehidupan kami, kami akan mewariskan mata air bukan air mata untuk anak cucu kami. Hutan mana yang tidak di rusak/rusak di negara indonesia ini, walupun sudah di jaga oleh polisi hutan, tapi hutan kami tidak pernah rusak walupun tidak ada yang manjaga seperti polisi hutan itu, hanya kami mempunyai Hukum Adat (ucapan “pamali” -bahasa sunda-/larangan) yang kami jaga. Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya, pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, menjaga hutan dan sebagainya.

Masjid/tempat ibadah

Merunut sejarah kita sudah legowo atas apa yang terjadi pada asal mula Kampung Naga ini, asal-usul kampung Naga kita kehilangan jejak, ada yang bilang bahwa Kampung Naga berasal dari Mataram dimana waktu prajurit mataram melawan batavia mereka singgah disini, akan tetapi ada juga yang bilang bahwa kami dari keturunan kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kami tidak mengiyakan dan juga menolaknya karena kami tidak mempunyai data, data-data kami musnah ketika DI/TII pimpinan Kartosuwiryo membakar kampung ini di tahun 1956. Buku-buku dan data-data mengenai Kampung Naga ini lenyap, kami hanya bisa merawat dan menjaga tradisi leluhur. Tapi kami ada sebelum islam masuk ke sini dilihat dari tradisi kami masih ada pengaruh budaya Hindu dan Budha, walupun kami menganut islam saat ini.

Alat Penumbuk Padi

Dapur/tempat memasak

Waktu sudah menampakan senjanya, saatnya saya dan Bapak Akmad Satori dan 2 temanya untuk menghaturkan pamit pulang ke tempatnya masing-masing, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Ade Suherlin Kapala Adat Kampung Naga yang memberi tauladan tentang ilmu Budaya, Toleransi, dan Alam.

Kamis, Februari 24, 2011

Upacara Methil

Upacara Methil adalah tradisi para petani untuk mengungkapkan rasa syukur akan dimulainya panen padi, kata methil sendiri diambil dari kata mithili (memotong), tradisi Methil ini pernah saya alami waktu saya masih duduk disekolah dasar sekitar tahun 80’an di tempat kelahiran saya di sebuah desa yang subur terletak di desa Gunungan kecamatan Kartoharjo Kabupaten Magetan -Jawa Timur.


Tradisi Methil Merupakan simbol rasa syukur kepada sang maha pencipta Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah dan karunia yang telah dilimpahkan serta kepercayaan masyarakat jawa tentang adanya Dewi Sri atau Dewi Padi sebagai simbol dari kemakmuran selain itu ada beberapa juga dengan pemikiran untuk memberi penghormatan kepada pepunden (penunggu) yang mbaurekso (menguasai) tanah sawah tersebut. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada pepunden. Sebagai pemilik sawah akan memberikan persembahan sesaji yang menjadi kelangenan (kesukaan) pepunden yang mbaurekso tanah sawah hal ini akan dimulainya panen raya padi oleh pemilik sawah.


Ritual Methil (kenduri kecil) yang dilakukan di sawah ini dipimpin oleh sesepuh desa (tokoh setempat) yang dipercaya memiliki kemampuan untuk memimpin upacara adat, ini dilakukan setelah sholat subuh biasanya dihadiri oleh tetangga rumah dan tetangga pemilik sawah yang sudah ada/bekerja disawahnya.


Dalam proses Methil, sesepuh akan menancapkan syarat di empat penjuru sawah dan di tengah-tengah sawah. Syarat yang ditancapkan itu yang terdiri atas beberapa jenis daun-daunan antara lain pupus aren, janur kuning, daun dadap, pulutan, daun girang dan sedikit buceng (tumpeng bersama isinya).


Yang ditancapkan di keempat penjuru sawah itu disebut bundel pojok papat, sedangkan yang ditancapkan tepat di tengah-tengah sawah disebut tarup agung. Pada tarup agung inilah tempat pertama dimulainya wiwitan menggunakan ani-ani (pemotongan padi) alat potong padi zaman dulu sekarang saya sudah tidak lagi menemukan alat-alat tersebut dirumah saya.


Pada tarup agung terdapat sesaji berupa, kelapa muda, pisang setandan, apem, ayam panggang, cok bakal, kembang awur-awur, kinang, kemenyan, dan beberapa jenis makanan yang dipercaya menjadi kelangenan (kesukaan).


Bagi masyarakat Jawa yang masih menganut budaya leluhur, ritual ini wajib dilaksanakan agar hasil panen yang diperoleh awet dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi hal ini sudah tidak saya temukan kembali ritual/tradisi-tradisi Methil dikarenakan sudah tergeser oleh perkembangn zaman.


Tradisi/kebudayaan-kebudayan ini akan punah dengan sendirinya dan tergilas oleh pemikiran-pemikiran modern, saya masih sedikit berharap agar tradisi/budaya leluhur jangan pernah kita lupakan bahkan menghilangkan, karena ini adalah warisan para leluhur kita untuk anak cucu kita dikemudian hari.


Tradisi Methil ini menurutku sangat-sangatlah filosofi bagimana kita bersyukur terhadap hasil alam/bumi untuk mengingat Tuhan sang pencipta alam, bagiamana kita mencintai alam dengan tidak merusaknya secara langsung serta menanamnya kembali agar menghasilkan produksi hasil bumi (bersatunya kita dengan alam).


*) ditulis oleh Setyo Ari Kusmawan

Selasa, Februari 15, 2011

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah)*

Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”

Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.

Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.

Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”

Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.

Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.

Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.

Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak?

Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.

Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.

Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.

Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.

Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladan sikap Rasulullah.

*) Akhmad Sahal, Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania

Senin, Desember 27, 2010

Bunda Maria/Maryam di Dalam Al-Quran

ditulis oleh :

Zuhairi Misrawi : Ketua Moderate Muslim Society, Lulusan Al-Azhar -Kairo, Jurusan Kaidhah.

Dalam al-Quran, digambarkan sebagai sosok perempuan agung. Nama ditulis degan tinta emas sebagai salah satu nama surat dlm al-Qura. Yaitu MARYAM. Di dalam al-Quran, /Maryam selalu dilekatkan degan Jesus/Isa alaihissalam, Isa ibnu Maryam. Dalam surat al-Tahrim 12, digambarkan sebagai sosok perempuan suci, beriman kepada kitab-kitabNya, dan salehah. Nama Ibu tidak disebutkan secara eksplisit. Al-Quran hanya menyebut Istri Imran (3:36). Sejak masih kecil, sang ibu kerap mendoakan agar putrinya dilindungi dari godaan setan (3:36) Tuhan mengabulkan doa sang ibu, tumbuh degan sempurna di bawah asuhan Zakaria. Keajaiban terjadi pada muda.

Saat Zakaria memasuki ruangan, ia kerapkali mendapatkan makanan. Zakaria bertanya kepada , "Dari mana makanan ini semua?". Ia menjawab, "Dari Tuhan. Dia yang memberi rezeki" (3:37). dikenal sbg sosok yg suka berdoa, memohon perlindungan dari Tuhan.

Sbb itu, dlm surat Ali Imran 42, /Maryam disebut sebagai perempuan yang paling mulia diantara perempuan-perempuan yang lain. Saat berdoa, Malaikat mendatangi , Tuhan telah memberimu kalimat. Yaitu putera yang akan menjadi obor dunia-akhirat (3:45). Malaikat menambahkan, "Puteramu kelak akan menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhan (3:45), Meskipun demikian, belum percaya, bagaimana ia bisa melahirkan anak sedangkan ia tidak pernah disentuh laki-laki (3:47).

Malaikat meyakinkan , bahwa Tuhan akan menggunakan titahnya, "kun fayakun". Jadilah, maka akan terjadi. (3:47) . Didalam surat Maryam 16, dikisahkan mengasingkan diri dari keluarganya dan tinggal di wilayah timur. Tidak lama setelah itu, hamil. Saat melahirkan Jesus/Isa, ia bersandar ke pohon kurma. Ia tidak ingat apa2 saat itu (19:23). Konon saat melahirkan, ditemanin Jibril (19:24) Jibril berkata kpd , "Janganlah bersedih, Tuhan telah menyediakan air bagimu" (19:24). Kata Jibril, "jika kamu lapar, gerakkanlah pohon kurma ini, nanti buah kurma lezat akan jatuh dan siap disantap (19:45). Yang menarik bagi saya, kisah kelahiran Jesus/Isa diceritakan degan detail, sedangkan kelahiran Muhammad tidak sedetail ini "Tuhan Mahatahu".

Setelah melahirkan, kerap berpuasa dan tidak banyak bicara sebagai nazar (19:26) Tapi petaka datang setelah itu, orang-orang menuduh telah melakukan perzinahan, karena melahirkan anak tanpa ayah (19:28). Tetapi tuduhan tersebut ditepis oleh Jesus/Isa yang masih belia, seraya berkata: Aku adalah hamba Allah (19:30). Jesus/Isa menambahkan, Tuhan telah menurunkan Kitab Suci dan menjadikanku Nabi (19:30) Dalam Surat Ali Imran 48, dikisahkan Tuhan mengajarkan hikmah, Taurat, dan Injil kepada Jesus./Isa Sebab itu, Tuhan memberkati Jesus/Isa dan memerintahkan agar senantiasa bermunajat dan menunaikan Zakat (19:31) Jesus/Isa juga mengabarkan tuhan menyuruhnya agar menghormati orang tua dan tidak berlaku congkak (19:32). Puncaknya, dlm surat Maryam 33, Jesus/Isa berkata: DAMAI PADA HARI NATAL, KEMATIAN, DAN KEBANGKITANKU.

Ayat tsb menjadi landasan ulama al-Azhar Mesir menganjurkan ucapan selamat natal, bahkan bersilaturahim ke gereja saat Natal. Hal yg dilupakan umat Islam, selain beriman pada Muhammad, umat Islam juga diharuskan beriman pada Jesus dan Musa sebagai utusan Tuhan. Saya percaya, bahwa jalan membangun harmoni antar-agama selalu ada, karena al-Quran adalah KITAB TOLERANSI.

Kamis, Agustus 12, 2010

Rasa tak Tergapai (khayalan)


By: setyo arie kusmawan (argon)


Hanya rasa yang ku punya...tapi tak bisa ku ungkapkan karena engkau sudah mengikat tali cinta....


Akan kubawa rasa ini dalam sebuah khayalan....mungkin nanti kita akan dipertemukan dipersimpangan...


Aku akan menerimamu apa adanya jika suatu saat akan terjadi padamu...Karena rasa ini yang begitu kuat untukmu...


Senyumlah dalam kedamaian hatimu, bersyukurlah dengan takdirmu, teruskan langkah untuk cita dan cintamu, kupanjatkan do'a selalu agar engkau tetap bersatu. Betapa rasa ini sungguh berarti tetaplah terjaga, selamat tinggal rasa...kau telah pergi selama nya...


Aku yakin walau rasa ini tak bisa memiliki dan bersatu.....aku akan menjaga rasa ini sampai nanti.....!!

Modern Moslem

Modern Moslem
wawasan religi modern