Pages

ALBUM

Selasa, Juni 14, 2011

Sosialisme ala Lula

Ditulis Oleh : Budiman Sudjatmiko

Anggota F-PDIP DPR

Pembina Parade Nusantara

(Persatuan Rakyat Desa Nusantara)

Saat saya menemui Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di kantor barunya, Instituto da Cadadania atau Institut Warga Negara di Sao Paulo, 23 Mei petang lalu, karismanya terpancar dari kebersahajaannya.

Saat itu Lula didampingi Luiz Dulci mantan Menko Ekonomi Politik dan sekjen Partai Pekerja. Luiz Inacio da Silva (Lula) adalah presiden yang prestasi-prestasinya selama memimpin Brasil diakui lawan-lawan politiknya dan dunia. Sebagai tokoh Sosialis dia dihormati oleh aktivis-aktivis gerakan sosial dalam Forum Sosial Dunia dan dikagumi pebisnis dalam Forum Ekonomi Dunia.

Mematahkan Mitos

Dalam diskusi selama sekitar 1,5 jam, Lula dan Luiz menjelaskan bahwa apa yang coba diraih oleh Lula selama dua periode pemerintahannya adalah melakukan transformasi sosialis secara progresif dan tidak dogmatis. Itu adalah arah pembangunan nasioanl yang baru bagi Brasil. Mantan pemimpin buruh ini mencoba mematahkan mitos-mitos neoliberalisme yang selama ini dipegang oleh Pemerintah Brasil sebelumnya.

Dengan bahasa yang mudah dicerna, Lula dan Luiz menjelaskan sejumlah mitos neoliberal. Diantara mitos-mitos tersebut adalah bahwa pemerintah harus mendorong lebih banyak ekspor karena susah bersandar pada daya beli masyarakat Brasil (pasar domestik) yang rendah. Untuk memetahkan mitos tersebut, Lula mencoba mengembangkan ekspor sekaligus mengembangkan pasar domestik.

Hal ini dilakukan Lula dengan mendorong bank-bank milik Negara memberi lebih banyak kredit bagi perusahaan pertanian besar dengan bunga rendah 3 persen pertahun dengan sanksi yang tegas jika tidak melunasinya. Hasilnya adalah mereka jadi lebih produktif dan kompetitif mengekspor produk pertanian ke luar negeri.

Dipihak lain sebagai pemerintah yang berkomitmen meningkatkan harkat masyarakat miskin, khususnya kalangan petani (sekitar3,5 juta keluarga tani miskin), bank-bank Negara juga di dorong memberikan kredit tetapi dengan bunga negatif. Bunga negatif berarti petani-petani miskin bisa membayar utang dalam jumlah kurang dari kredit yang diterimanya. Dengan demikian diharapkan petani menengah kebawah bisa lebih produktif.

Dampak dari kebijakan ini, sekarang 70 persen kebutuhan pangan masyarakat Brasil dipenuhi oleh petani-petani menengah ke bawah. Sebagai konsekuensinya selama dua periode pemerintahannya, Lula berhasil membebaskan 24 juta rakyat Brasil dari garis bawah kemiskinan dan mengangkat 35 juta kelas menengah baru. Bahkan selama periode kedua pemerintahannya kelas menengah bertambah 10 persen per tahun.

Meski demikian pemerintahan Lula juga tetap mengakomodasi sekstor swasta dalam membangun perekonomian Brasil. Beberapa BUMN strategis seperti Petrobas (minyak) atau Bank Brasil dimasukkan ke bursa efek :49 persen sahamnya diperdagangkan dan 51 persen tetap dikuasai pemerintah. Ini telah memungkinkan Bursa Efek Brasil (bovespa) menjadi referensi penting di Amerika Latin. Ada juga mitos lain seputar inflasi dan pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan sebelumnya. Mitosnya adalah bahwa perekonomian Brasil tidak boleh tumbuh lebih dari 2 persen agar inflasi bisa dikendalikan.

Luis Dulci selaku mantan Menko Ekonomi Politik pada era Lula menjelaskan bahwa Lula berhasil memacu pertumbuhan 4 persen sampai dengan 5 persen per tahun-bahkan pada tahun 2010 bisa mencapai 7 persen-dengan angka inflasi yang tercatat terendah dalam dalam sejarah Brasil : 4 persen. Padahal saat Lula baru mengambil alih kekuasaan dari pemerintah sebelumnya pada tahun 2002, dia diwarisi inflasi hingga 16 persen.

Tentu tak semuanya kisah tentang sukses. Lula mengakui bahwa ada satu kegagalan yang sangat strategis selama dua periode pemerintahannya. Kegagalan yang dia maksud adalah saat mengajukan RUU Pajak Progresif. RUU ini mewajibkan masyarakat kelas atas membayar pajak dengan dengan persentase yang lebih tinggi atas pendapatannya. Kegagalan ini disebabkan Partai Pekerja dan Partai Sosialis yang mendukungnya diparlemen hanya menguasai 30 persen kursi sehingga kalah voting.

Seandainya RUU ini lolos diharapkan Brasil memiliki sumber pendanaan bagi lebih banyak proyek sosial untuk rakyat miskin, membeli mayoritas saham perusahaan-perusahaan asing dan juga membeli tanah-tanah perkebunan luas milik swasta untuk di distribusikan kepada petani miskin.

Bantuan Tunai

Meski RUU Pajak Progresif tersebut tidak lolos rakyat miskin tetap bisa ditolong, saat Lula menggenjot program bantuan langsung tunai sebagai bagian dari Program Bolsa Familia. Dalam program ini setiap keluarga miskin diberi kartu ATM untuk mengambil uang tunai tersebut sehingga transaksinya tercatat secara elektronik.

System ini diharapkan bisa mencegah penyalahgunaan politik atau kekacauan distribusi. Namun, agar program bantuan langsung tunai itu sungguh-sungguh bisa menopang kesejahteraan rakyat, keluarga penerima bantuan langsung tunai diwajibkan menyekolahkan anak-anaknya dan rajin memeriksa kesehatan mereka di pusat-pusat kesehatan masyarakat. Keduanya Cuma-Cuma. Jika gagal memenuhi syarat ini, keluarga tersebut akan dikeluarkan dari program bantuan langsung tunai.

Lula (yang harus meninggalkan diksusi lebih dulu karena melewati waktu yang dijadwalkan) bercerita kepada saya dengan bergairah. Dari penuturannya, saya menangkap kerinduan Lula pada negerinya dan dunia yang lebih baik.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, guru yang terpercaya bagi pegiat politik muda seperti saya adalah seorang tua yang sudah mempertanggungjwabkan tugas-tugas mulianya. Lula sekarang banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling Brasil dan dunia untuk berceramah.

Sesekali pada akhir pekan dia menonton sepak bola Liga Brasil dengan berpanas-panas di tribune kelas ekonomi bersama rakyat biasa yang ia cintai. Sebelum berpisah, Lula menyampaikan salam hangatnya untuk semua pembaru sosial di Indonesia. Muito prazer em conhece lo, Presidente Lula.

Jumat, Juni 03, 2011

Sosok "Ahmad Fuadi"

Ditulis oleh : Setyo Arie Kusmawan

Ahmad Fuadi, lahir di Maninjau Sumatera Barat 30 Desember 1972 adalah seorang Penulis Novel Trilogi 5 Menara yang sangat fenomenal, pekerja sosial serta mantan wartawan Tempo dari Indonesia. Penerima 8 beasiswa keluar negri, anak seorang guru agama sekolah dasar yang kehidupanya sangatlah sederhana atau dibilang miskin. Seumur hidupnya ahmad fuadi tidak pernah menginjakkan kakiknya diluar ranah minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di hutan Bukit barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau.

Tiba-tiba Ahmad Fuadi harus melintasi pegunungan Sumatera menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur di Ponorogo. Ibunya menginginkan ahmad fuadi menjadi Buya Hamka (tokoh muhammadiah yang disegani di Sumatera) walau Ahmad Fuadi ingin dirinya sebagai BJ. Habiebie dengan setengah hati Ahmad Fuadi mengikuti perintah ibunya belajar di Pondok Pesantren Modern Gontor di jawa Timur.

Ahmad Fuadi sangat terkesima dengan mantra sakti “man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses”. Dibawah menara masjid ahmad fuadi dan teman-temanya sambil menunggu adzan maghrib menatap awan lembayung yang berarak ke ufuk, awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan Benua Eropa sebagia impian Ahmad Fuadi dan teman-temannya. Kemanakah impian itu akan mereka bawa? Mereka tidak tahu yang mereka tahu adalah : jangan pernah remehkan impian/cita-cita, walau setinggi apapun impian/cita-cita, Tuhan sungguh maha mendengar.

Setelah lulus dari Pondok Modern Gontor, Ahmad Fuadi sudah bisa 2 bahasa, bahasa Arab dan Inggris. Impianya tinggi betul, ingin belajar di Institut Teknologi Bandung seperti bapak BJ. Habiebie dan sekolah di Amerika. Dengan semangat yang membara Ahmad fuadi pulang kampung ke Maninjau dan tak sabar ingin kuliah. Namun kawan karibnya Randai meragukan kemampuan Ahmad Fuadi lulus UMPTN dan Ahmad Fuadi sadar betul ada satu hal penting yang dia tidak punya yaitu ijasah SMA. Bagaiman mungkin mengejar cita-cita setinggi langit tanpa ijazah.? (karena di pondok pesantren tidak diberi ijazah formal SMA). Ahmad Fuadi mendobrak rintangan berat dengan mengikuti ujian untuk mendapatkan Ijazah SMA dengan susah payah setiap hari belajar dari buku-buku pinjaman kawan karibnya Randai akhirnya Ahmad Fuadi lulus menadapatkan Ijasah SMA. Rintangan ini belum juga reda badai lain menggempurnya Ahmad Fuadi harus ikut UMPTN agar bisa masuk kampus yang di cita-citakan di ITB (institute Teknologi Bandung) dan ternyata Ahmad Fuadi gagal masuk ITB dan akhirnya diterima di UNPAD (universitas padjadjaran).

Ahmad Fuadi berangkat ke kota Bandung untuk meneruskan kuliah, dengan biaya dari hasil bapaknya menjual sepeda motor kesayanganya (motor keluaran tahun70’an), yang dituju adalah tempat kawanya Randai yang lebih dulu masuk ITB,mereka satu kos di daerah tubagus ismail. Rintangan mulai datang kembali disaat ayahnya meninggal dunia, hidupnya mulai sulit jangankan untuk membayar uang kuliah untuk makan sehari-hari saja tidak bisa, Ahmad Fuadi mulai berjualan dari alat-alat rumah tangga hingga menjadi sales kecantikan bahkan dia sempat bertanya-tanya “sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini” hampir saja dia menyerah. Rupanya mantra “man Jadda wajada saja tidak cukup dalam memenangkan hidup, Ahmad Fuadi ingat mantra kedua “man shabra zhafira, siapa yang sabar akan beruntung. Ahmad fuadi mulai menulis artikel di Koran Bandung, dan artikelnya dimuat di sebuah Koran dengan senangnya ahmad fuadi mendapat honor dan keinginanya mentraktir teman-temanya alangkah malunya karena honor yang diterima hanya Rp. 15.000,- tidak cukup mentraktir Untuk mentraktir teman-temanya, ahmad fuadi selain menulis artikel di Koran-Koran tak lupa dia meluangkan waktu hidupnya untuk mengajar anak-anak tidak mampu di area TPAS (tempat pembuangan akhir sampah) di daerah bandung.

Ahmad Fuadi yang selalu tak pernah menyerah akhirnya tulisan-tulisanya sudah menjadi langganan Koran bandung. Berbekal kedua mantra tersebut dia songsong badai hidup satu persatu.

Ahmad fuadi mengkuti test program pertukaran pemuda antara Indonesia dan kanada dan awal mula ahmad fuadi menjadi duta muda bangsa ke kanada. Terwujud sudah impianya untuk pergi ke benua Amerika sebuah awal untuk ke benua eropa lainya. Sebuah tekad untuk meraih mimpi yang menjadi sebuah kenyataan dengan ketekunan, usaha keras dan kesabaran. Semoga menjadi inspirasi pembaca untuk lebih maju, mandiri dan membangun.

Pendidikan

- KMI Pondok Modern Gontor, Ponorogo (1988-1922)

- Program Pendidikan Internasional, Canada World Youth, Montreal Kanada (1995-1996)

- National University of Singapore studi satu semester (1997)

- Universitas Padjadjaran Jurusan Hubungan Internasional (September 1997)

- The George Washington University, Washington DC, MA dalam media and Public Affairs (Mei 2001)

- Royal Holloway, Universitas London, Inggris, MA dalam Medi Arts (September 2005)

Penghargaan dan Beasiswa

- SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001

- Columbus School of Arts and Sciences Award, The George Washington University The Ford Foundation Award 1999-2000

- CASE Media Fellowship, University of Maryland, Collage Park 2002

- Beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana The George Washington University1999-2000

- Beasiswa British Chevening, Program Pascasrjana, University of London 2004-2005

Modern Moslem

Modern Moslem
wawasan religi modern